BIMBINGAN Majelis POUK PELITA PERATURAN MAJELIS dan KEPENATUAAN

 Rabu 06 Desember 2023


Dalam Matius 16:15-20 dan 18:15-20 kita memiliki perbedaan sebutan yang utama dari “jemaat” dalam Perjanjian Baru. Keduanya disebutkan oleh Tuhan Yesus Kristus sendiri, Sang pendiri jemaat.

Adalah penting untuk mengetahui dan memahami apa yang diucapkan Allah kepada generasi kita, dan apa tujuan Allah bagi bumi saat-saat sekarang. Kita membutuhkan konsep-konsep alkitabiah dalam rangka membangun sesuai dengan tujuan Allah.

Pertanyaan-pertanyaan penting yang harus dapat dijawab dengan jelas oleh setiap pelayan adalah: Apa visi kita? Apa yang menjadi tujuan-tujuan kita? Apakah yang kita percayai adalah hal pokok dalam pikiran Allah? Apakah pusat dari kehendak dan maksud Allah? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang penting ini menentukan arah pelayanan, khotbah dan pengajaran serta ketahanan iman dan spiritualnya.

APA KONSEP MU ATAS JEMAAT sehingga Kristus berkata bahwa Dia akan membangunnya? Jemaat Harus Menjadi Jemaat yang Bersatu

Jemaat

Selaras, Satu Hati, Satu Pikiran

Simbol-simbol Kesatuan dan Keutuhan

Mereka Semua akan Menjadi Satu

Kesatuan di Dalam Nama Allah

Kesatuan di Dalam Firman Allah

Kesatuan di Dalam Kemuliaan Allah

Kesatuan di Dalam Kasih Allah

Jemaat Harus Menjadi Sebuah Jemaat yang Mulia

 

Salah satu persoalan klasik dalam pelayanan penggembalaan adalah rumusan tentang penatua dan diaken yang mengalami pandangan yang beragam. Kalau boleh dikatakan ada tiga pendangan ekstrim dalam menginterpretasi pengajaran tentang penatua dan diaken yaitu:

1) Penatua dan Diaken seperti “ ruling executive”, di mana mereka lebih banyak menjalankan tugasnya seperti seorang eksekutif dan tidak lagi memiliki jiwa pelayan.

 2) Penatua dan Diaken seperti “Building and Property Managers” di mana mereka hanya mengurus pembangunan gereja, persoalan administrasi dan tidak lebih dari itu.

 3) Penatua dan diaken seperti “ The church Factotums” di mana mereka menangani semua jenis pelayanan mulai dari pembangunan,administrasi,berkhotbah,pekunjungan dan masih

banyak lagi sehingga jabatan mereka tidak lagi memiliki keunikan/kekhususan sendiri.

   Pengertian Penatua dan Diaken

Penatua

Dalam PL isitilah penatua disebutkan dalam bahasa Ibraninya “Zagen” dapat diterjemahkan “berumur, manusia purba, tua-tua, tertua, orang tua, pria dan wanita, senator’ (Kej 10:21; 25: 23; Ul. 5: 23; I sam 4: 3; I Taw 11: 3). Sehingga dapat diartikan bahwa arti dasar kata penatua dalam konsep PL adalah merujuk kepada orang yang lebih tua atau sudah tua baik pria maupun wanita. Jadi konsep atau defenisi penatua dalam PL mengarah kepada yang lebih tua tua yang telah memiliki banyak pengalaman baik itu dalam keluarga, politik, dan masyarakat.

 

Dalam PB istilah penatua disebutkan dua kata yaitu “Penatua” dan “penilik”. Kata “penatua” (Yun: Presbuteros/Presbiter; Ing: Elder) yang terdapat dalam I Tim 5: 19; KIs 20: 17; Tit 1:5 diartikan sebagai penatua, orang yang lebih tua atau senior atau Majelis yang beranggotakan orang-orang berumur lanjut. Kata ini muncul 66 kali dalam PB.

Kata “penilik” (Yun: Episkopos, bishop. Ing: overseer) yang terdapat dalam I Tim 3:1; Fil 1:1; Tit 1: 7a diartikan sebagai seorang pengawas, pimpinan, pelindung. Dalam bahasa Yunani kata ini adalah hasil gabungan dari dua kata, yaitu: “epi” yang berarti “melebihi”, dan kata “skopos” yang berarti “melihat atau mengamati”, memandang dengan tajam, mengawasi

Di kalangan para teolog istilah penatuan dan penilik menjadi perdebatan tersendiri seperti yang diutarakan oleh David L. Bartlett :

1. Para penilik jemaat dan penatua merupakan orang yang sama. Surat-surat pastoral Paulus barangkali menggunakan pelbagai tradisi yang berbeda, suatu tradisi tentang para penilik jemaat dalam gereja-gereja local dan suatu tradisi tentang para penatua dari mereka yang khususnya mengenakan gaya yang khas dari kewibawaan Paulus.

2. Para penilik jemaat merupakan sebuah subkelompok bagian tertentu dari dewan penatua, terlepas apakah mereka sendiri dipercaya dengan tanggung jawab tertentu atau sebagai anggota ex-officio dari dewan penatua karena kewajiban terpisah mereka sebagai pengawas.

3. Para penilik jemaat berbeda dari para penatua di dalam paguyuban yang dicerminkan di dalam paguyuban yang menjadi tujuan ditulisnya surat Titus.

 “Para penatua dari gereja-gereja Kristen, para presbiter, yang kepadanya dipercayakan arah dan pemerintahan dari tiap gereja, setara dengan episkopos, penilik jemaat, bishop (Kisah 11:30; 1 Timotius 5:17).” Jadi Zodhiates menyamakan “penatua” dengan penilik jemaat atau bishop (episkopos diterjemahkan dengan istilah itu). Dia memandang istilah “penatua” sebagai rujukan pada wibawa dari jabatan tsb, sementara bishop atau penilik jemaat merujuk pada otoritas dan kewajiban (1 Petrus 2:25; 5:1; 2,

 4.Memang kalau dilihat secara sepintas ungkapan-ungkapan Paulus, sepertinya antara “penilik jemaat” dengan “penatua jemaat” pada hakekatnya tidak mengalami perbedaan. Alexander Strauch mengatakan “ Meskipun kedua istilah itu menunjukkan badan yang terdiri dari orang-orang yang sama, penatua (elder) mencerminkan keturunan orang Yahudi yang menekankan martabat, kematangan, kehormatan, dan bijaksana, sementara penilik (overseers) mencerminkan keturunan orang berbahasa Yunani yang menekankan tugas kepenilikan/penggembalaan.

Ada beberapa istilah Yunani yang terdapat dalam PB yang ada hubungannya dengan kata “diaken”, yaitu

1. Diakonos : Seorang hamba dari orang banyak, seorang pelayan, pembantu, abdi atau pelayan. (30 kali, mis : Mat 22:13; 23:11; Kol 1:7; Gal 2: 7, dsb.)

2. Diakonia : Sebuah pelayanan atau melayani orang banyak; Melayani atau hadir sebagai seorang pelayan (34 kali, mis :Rm 11:13; 12:7; I Tim 1:12, dsb.)

3. Diakoneo : Melayani orang banyak, menjadi seorang pembantu, menunggu; Pelayanan kepada orang lain, bertindak seperti orang yang melayani (37 kali, I Tim 3:10; I Kor 3:3; Rm 15:25, dst)

Ketika Paulus menulis suratnya kepada jemaat Filipi “Dari Paulus dan Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus, kepada semua orang kudus di Filipi dengan para penilik jemaat dan diaken”(Fil. 1:1), sesungguhnya ia menyapa mereka dengan menyebutkan sebagai pelayan/hamba (diakonoi). Kata yunani untuk Diaken adalah Diakonos (dalam bahasa inggris : Deacon) dipakai dalam PB untuk menggambarkan pelayan/hamba, misalnya dalam beberapa teks PB : (Yoh 2: 5,9; Mat 22: 13a).  Paulus pada umumnya seringkali juga menggunakan ungkapan itu untuk menyebut para pekerja Kristus, para rasul, pengajar dan pemberita Injil. (Kol 1:7; Ef.6:21; II Kor 6:4a). Di dalam ayat-ayat ini kata pelayan pada umumnya dipakai untuk orang secara pribadi melayani atau membantu orang lain, pekabaran Injil atau Allah. Dalam artian terjemahannya bukan diaken (deacon) tetapi pelayan (diakonos).

Gereja mula-mula dan para pemimpin mereka memilih kata diakonos untuk pejabat baru mereka, dan memaknainya dengan pengertian mereka sendiri yang khusus (Kis 11:29). Oleh sebab itu diaken PB adalah para pelayan resmi di gereja setempat bagi anggota yang mengalami kekurangan dan menderita. 

 

 “Penatua” adalah dewan kepemimpinan di antara orang-orang Israel sejak zaman kitab-kitab Musa (Pentateukh). Kita mendapatkan mereka membuat keputusan-keputusan politik (2 Sameul 5:3; 2 Samuel 17:4, 15), menasihati raja (1 Raja-Raja 20:7) dan mewakili rakyat dalam kaitannya dengan hal-hal rohani (Keluaran 7, 17:5-6, 24:1, 9; Bilangan 11:16, 24-25). Terjemahan mula-mula Perjanjian Lama dalam Bahasa Yunani (LXX) menggunakan presbuteros untuk penatua. Ini adalah kata bahasa Yunani yang sama yang dalam Perjanjian Baru juga diterjemahkan sebagai “penatua.”

Penatua juga Menjaga, menggembalakan kawanan domba Allah

Paulus mengharapkan bahwa para penatua akan maksimal dalam menggembalakan jemaat, karena hal ini merupakan salah satu tugas dari mereka. Menggembalakan dalam artian senantiasa memberikan perhatian, kepedulian dan kasih kepada jemaat yang digembalakan. Mereka harus memagari mereka dengan pengajaran-pengajaran yang alkitabiah sehingga apabila ada pengajar sesat, jemaat tetap kokoh dalam menghadapi pengajar sesat.

Kepenatuaan yang alkitabiah adalah badan pastoral yang berkualitas dan berfungsi, yang akan secara aktif menggembalakan jemaat Allah. Sebagian dari penatua ini ada yang swadaya, ada pula yang didukung gereja,terutama mereka yang mengajar dan mengkhotbahkan firman Allah. (I Tim 5:17,18) Amen. Pdt. R.H.L. Tobing. S.Th.,MA

 

 

Komentar